Saturday, November 11, 2017

Pemberdayaan masyarakat desa melalui pengembangan minat baca dan perpustakaan desa

Kita menyadari bahwa menumbuhkan budaya baca di kalangan masyarakat bukanlah suatu pekerjaan mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat karena terkait dengan kultur masyarakat kita yang meletakkan informasi sebagai sesuatu yang belum dirasakan penting dalam kehidupannya
Membeli buku belum dipandang sebagai suatu tindakan yang bermanfaat karena mereka masih terdesak oleh kebutuhan domestik yang bersifat keseharian. Oleh karena itu di sebagian masyarakat kita muncul pemikiran daripada memanfaatkan uang untuk membeli buku lebih baik digunakan uangnya untuk keperluan lain yang menurut mereka lebih mendesak dan bermanfaat.
Persoalan lain yang menjadi kendala dalam peningkatan budaya baca masyarakat diantaranya masih tingginya harga buku sulitnya memperoleh buku terutama bagi masyarakat pedesaan dan kurang Tersedianya pusat taman taman bacaan atau perpustakaan, kalaupun ada perpustakaan kondisinya tidak menarik dan kurang nyaman. Belum lagi ketersediaan materi pustaka yang kurang memenuhi harapan masyarakat dan alasan klasik lainnya adalah faktor kemiskinan yang masih melanda sebagian masyarakat. Bomobaca ombongo palapolango.
Dalam kaitan dengan peningkatan kemampuan masyarakat dan penyediaan berbagai informasi inilah Pemerintah desa di Kabupaten Gorontalo mulai membangun perpustakaan desa. Perpustakaan desa dapat menjadi Wahana bagi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya masyarakat desa melalui sumber bacaan untuk pembelajaran seumur hidup. Langkah ini sekaligus menjawab masalah rendahnya minat baca di masyarakat dan sebagian besar berada di desa-desa jauh dari kawasan perkotaan karena masyarakat di pelosok pedesaan sulit untuk akses perpustakaan selama ini hanya berjalan ibukota kabupaten
 dalam rangka pemberdayaan masyarakat desa khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia maka peran dan fungsi perpustakaan Desa sangatlah menentukan perpustakaan desa seyogianya dapat berperan dalam mengembangkan minat baca masyarakat desa. Untuk itu perpustakaan desa dapat berperan dalam
(Pertama) mendorong warga masyarakat agar dapat bersikap positif terhadap pembaca sehingga menimbulkan minat masyarakat pembaca. Kegemaran membaca ini kemudian akan menjadi kebiasaan. Langkah konkrit untuk memotivasi masyarakat itu, misalnya secara berkala perpustakaan Desa menyelenggarakan Jambore membaca lomba membaca lomba mengarang dan lomba mendongeng
(Kedua) hendaknya perpustakaan Desa memiliki buku atau bahan bacaan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan lokal, pertanian, tentunya jenis-jenis bacaan dalam perpustakaan desa adalah yang berkaitan dengan produk dan produktivitas pertanian dan sebagainya
(Ketiga) perpustakaan Desa harus berprinsip bahwa "buku ke masyarakat" misalnya dengan mengembangkan kelompok pembaca di masyarakat, memberikan penyuluhan secara rutin tentang fungsi perpustakaan dan mengintegrasikan kegiatan pemberdayaan dengan kegiatan perpustakaan,  antara Posyandu di perpuatakaan, penyuluhan pertanian, kegiatan KB di perpustakaan. dll.
(Keempat) fisik perpustakaan Desa tidak harus menempati gedung tersendiri, namun yang lebih diperlukan adalah lokasinya mudah dijangkau masyarakat. dan menjadikan Perpustakaan Desa Sebagai Pusat Informasi ... Semoga Yusron


Tuesday, October 31, 2017

Perpustakaan mulai ditinggalkan

Di era digital saat ini masyarakat mulai meninggalkan perpustakaan karena mereka memiliki fasilitas akses terhadap sumber informasi yaitu internet. Bahkan mereka memiliki kemampuan memilih sumber informasi yang sesuai kebutuhannya. Pertanyaannya masih Perlukah kehadiran perpustakaan dan pustakawan nya.?  Jawabannya tentu masih perlu karena sesuai amanat undang-undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, pemerintah wajib menyediakan fasilitas perpustakaan persoalannya adalah Apakah pustakawannya memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi mengantisipasi dan menanggapi dengan cepat perubahan kebutuhan pemustaka. Hal ini penting segera ditangani oleh pustakawan, dan jika tidak maka perpustakaan akan benar-benar ditinggalkan dan tentunya merugikan uang negara, ada beberapa upaya yang harus dilaksanakan oleh pustakawan sebagai amanat SNP (Standar Nasional Perpustakaan Umum) sebagaimana tertuang dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Kabupaten/Kota  tentunya SNP  sebagai amanat untuk melaksanakan ketentuan Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perlu menyusun standar nasional perpustakaan kabupaten/kota. SNP dimaksud  mencakup:
a. standar koleksi perpustakaan;
b. standar sarana dan prasarana perpustakaan;
c. standar pelayanan perpustakaan;
d. standar tenaga perpustakaan;
e. standar penyelenggaraan perpustakaan; dan
f. standar pengelolaan perpustakaan.
Berikut hal-hal yang sering tidak dipenuhi oleh pejabat pengelola perpustakaan.
1.  Kemutakhiran koleksi.
 Koleksi terbaru perpustakaan yang terbit tiga tahun terakhir paling sedikit 5% dari jumlah koleksi yang ada pada tahun berjalan.
2.  Pengadaan bahan perpustakaan Perpustakaan Kabupaten/Kota mengalokasikan anggaran penyelenggaraan perpustakaan: a. jumlah penduduk sampai dengan 200.000 alokasi anggaran paling sedikit Rp. 500.000.000 per tahun; b. jumlah penduduk > 200.000 alokasi anggaran @Rp. 2500.- per kapita per tahun.
3.  Kunjungan Perpustakaan Jumlah kunjungan ke perpustakaan paling sedikit 0.10 per kapita per tahun.


4.  Promosi perpustakaan
x

Standar Perpustakaan Perguruan Tinggi Terbaru

Pada Tanggal 27 Maret 2017 telah di Undangkan Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 13 Tahun 2017 Tentang  Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi. Hal ini merupakan pelaksanaan ketentuan Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perlu menyusun standar nasional perpustakaan perguruan tinggi;
Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi dimaksud mencakup: (a) standar koleksi perpustakaan; (b) standar sarana dan prasarana perpustakaan; (c) standar pelayanan perpustakaan; (d) standar tenaga perpustakaan; (e) standar penyelenggaraan perpustakaan; dan  (f) standar pengelolaan perpustakaan. ada beberapa hal yang perlu kita cermati dalam standar ini antara laian : tentang Standar Koleksi.
Pertama  Ketersedian Jurnal ilmiah paling sedikit 2 (dua) judul (berlangganan atau menerima secara rutin) per program studi. Artinya bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat untuk tidak berlangganan tetapi memastikan dapat mengakses secara rutin jurnal ilmiah, saat ini ini merupakan hal yang mudah dilaksanakan hanya saja membutuhkan  pustakawan yang memiliki kompetensi yang memadai dan tanggung jawab untuk mengakases melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan khususnya jurnal ilmiah nasional maupun internasional yang difasilitasi oleh Negara dan dibayar oleh APBN.
Kedua Muatan lokal (local content) atau repositori terdiri dari hasil karya ilmiah civitas academica (skripsi, tesis, disertasi, makalah seminar, simposium, konferensi, laporan penelitian, laporan pengabadian masyarakat, laporan lain-lain, pidato pengukuhan, artikel yang dipublikasi di jurnal nasional maupun internasional, publikasi internal kampus, majalah atau buletin kampus). Untuk hal ini masih terdapat PT yang belum dapat mengelola sesuai standar padahal saat ini telah tersedia aplikasi yang gratis, lagi-lagi membutuhkan pustakawan yang mampuni khusus yang memiliki kompetensi bidang teknologi informasi.
Ketiga Tentang penyediakan sarana perpustakaan disesuaikan dengan koleksi dan pelayanan, untuk menjamin keberlangsungan fungsi perpustakaan dan kenyamanan dengan memperhatikan pemustaka yang memiliki berkebutuhan khusus (disabilitas),

Ini beberapa hal yang beru dan berbeda dengan SNI Tahun 2009 untuk melihat Perka Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 13 Tahun 2017 Tentang  Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat di DOWNLOAD DISINI

Monday, October 30, 2017

E-Book Adat Gorontalo

Dalam rangka menyediakan Buku  Adat Gorontalo Kami  Perpustakaan Daerah melaksanakan alih media dokumen hasil seminar adat tahun 2007 ke dalam bentuk E-Book, kegiatan ini dilaksanakan oleh stap Perpustakaan Atas Nama Amna Noor, dan Nining Edi, mereka bukan pustakawan namun mampu menghadirkan karya nyata layaknya pustakawan.
Kegiataan ini tidak di danai atau bukan berbentuk program dalam DPA,  ini merupakan karya mereka dalam memanfaatkan waktu luang setelah melaksanakan pelayanan.

Adapun buku tersebut sebagai berikut :

1. E-Book Pohutu Momulango download  DISINI

2. E-Book Pohutu Moponika  download  DISINI

3.  E-Book Pohutu Molalugo download  DISINI

4.  E-Book Pohutu Dualolipu  DISINI

5.  E-Book Pohutu Motimamango  DISINI

6.  E-Book Pohutu Moloopu download  DISINI

Berikut adalah E-Book  Alihmedia buku ini sudah mendapat izin tertulis dari Bapak Arifasno Napu Dkk,  Hasil Karya Oleh Ibu. Wiwin Baderan, baik alihmedia maupun pengurusan izin.

6.  E-Book  Menu Khas Gorontalo  DISINI


Kata kunci

Buku Adat Gorontalo; Pohutu Momulango download: Pohutu Moponika:   download  Pohutu Molalungo download; Pohutu Dualolipu Download: Pohutu Motimamango;  Pohutu Moloopu download; Buku Adat Gorontalo; Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo;Buku Adat Gorontalo
Buku Menu Khas Gorontalo: Buku Menu Khas Gorontalo; Buku Menu Khas Gorontalo; Buku Menu Khas Gorontalo;Buku Menu Khas Gorontalo








Wednesday, September 27, 2017

MANIFESTO PERPUSTAKAAN SEKOLAH



Manifesto Perpustakaan Sekolah IFLA/UNESCO 1999 : Perpustakaan Sekolah dalam Pengajaran dan Pembelajaran untuk Semua

Manifesto adalah pernyataan sikap sebuah kelompok yang diumumkan kepada publik dan sering bermuatan politis.(politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama- (teori klasik Aristoteles)

Perpustakaan sekolah menyediakan informasi dan ide yang merupakan dasar keberhasilan fungsional dalam masyarakat masa kini yang berbasis pengetahuan dan informasi. Perpustakaan sekolah membekali murid berupa keterampilan pembelajaran sepanjang hayat serta imajinasi, memungkinkan mereka hidup sebagai warganegara yang bertanggungjawab.
Misi Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah menyediakan jasa pembelajaran, buku dan sumber daya yang memungkinkan semua anggota komunitas sekolah menjadi pemikir kritis dan pengguna informasi yang efektif dalam berbagai format dan media. Perpustakaan sekolah berhubungan dengan jaringan perpustakaan dan informasi yang lebih luas sesuai dengan prinsip Manifesto Perpustakaan Umum yang dikeluarkan UNESCO.
Staf perpustakaan menunjang penggunaan buku dan sumber informasi lainnya, mulai dari buku fiksi sampai dokumenter, dari tercetak sampai elektronik, yang tersedia di sekolah maupun tempat lain. Materi tersebut melengkapi dan memperkaya buku ajar, bahan dan metodologi mengajar.
Telah terbukti, jika para pustakawan dan guru bekerja sama, maka murid akan mencapai tingkat literasi, kemampuan membaca, belajar, memecahkan masalah serta keterampilan teknologi informasi dan komunikasi yang lebih tinggi. Jasa perpustakaan sekolah harus diselenggarakan secara adil dan merata bagi semua anggota komunitas sekolah tanpa membeda-bedakan umur, ras, jenis kelamin, agama, kebangsaan, bahasa, status profesional ataupun sosial. Jasa dan materi khusus perpustakaan harus disediakan bagi mereka yang tak mampu menggunakan arus utama jasa dan materi perpustakaan. Akses ke jasa dan koleksi perpustakaan hendaknya didasarkan pada Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan tidak terikat pada segala bentuk ideologi, politik dan sensor agama, ataupun tekanan perdagangan.
Legislasi Pembiayaan dan Jaringan
Perpustakaan sekolah memiliki arti penting bagi strategi jangka panjang pengembangan literasi, pendidikan, penyediaan informasi serta ekonomi, sosial dan budaya. Sebagai bentuk tanggung jawab para pejabat berwenang lokal, regional dan nasional, maka hal itu perlu dukungan legislasi dan kebijakan khusus. Perpustakaan sekolah harus memperoleh pendanaan yang mencukupi dan berlanjut untuk keperluan tenaga terlatih, materi perpustakaan, teknologi dan fasilitas. Pemenuhan kebutuhan tersebut hendaknya cuma-cuma. Perpustakaan sekolah merupakan mitra penting dalam jaringan perpustakaan dan informasi lokal, regional, dan nasional. Jika perpustakaan sekolah berbagi fasilitas dan/atau sumber daya dengan jenis perpustakaan lain, seperti perpustakaan umum, maka tujuan khas perpustakaan sekolah harus diakui dan dipertahankan.
Implementasi Manifesto
Pemerintah, melalui kementerian yang bertanggung jawab atas pendidikan, didorong untuk mengembangkan strategi, kebijakan dan perencanaan yang mengimplementasikan prinsip Manifesto ini. Perencanaan hendaknya mencakup penyebaran Manifesto ini pada program pelatihan awal dan kesinambungan bagi pustakawan dan guru.
Tujuan Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral proses pendidikan. Berikut ini butiran penting bagi pengembangan literasi, literasi informasi, pengajaran, pembelajaran dan kebudayaan serta merupakan jasa inti perpustakaan sekolah:
  1. mendukung dan memperluas sasaran pendidikan sebagaimana digariskan dalam misi dan kurikulum sekolah;
  2. mengembangkan dan mempertahankan kelanjutan anak dalam kebiasaan dan keceriaan membaca dan belajar, serta menggunakan perpustakaan sepanjang hayat mereka;
  3. memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam menciptakan dan menggunakan informasi untuk pengetahuan, pemahaman, daya pikir dan keceriaan;
  4. mendukung semua murid dalam pembelajaran dan praktek keterampilan mengevaluasi dan menggunakan informasi, tanpa memandang bentuk, format atau media, termasuk kepekaan modus berkomunikasi di komunitas;
  5. menyediakan akses ke sumber daya lokal, regional, nasional dan global dan kesempatan pembelajar menyingkap ide, pengalaman dan opini yang beraneka ragam;
  6. mengorganisasi aktivitas yang mendorong kesadaran serta kepekaan budaya dan sosial;
  7. bekerja dengan murid, guru, administrator dan orangtua untuk mencapai misi sekolah;
  8. menyatakan bahwa konsep kebebasan intelektual dan akses informasi merupakan hal penting bagi terciptanya warga negara yang bertanggung jawab dan efektif serta partisipasi di alam demokrasi;
  9. promosi membaca dan sumber daya serta jasa perpustakaan sekolah kepada seluruh komunitas sekolah dan masyarakat luas.
Perpustakaan sekolah memenuhi fungsi tersebut dengan mengembangkan kebijakan dan jasa, memilih dan memperoleh sumber daya informasi, menyediakan akses fisik dan intelektual ke sumber informasi yang sesuai, menyediakan fasilitas pembelajaran, serta mempekerjakan staf terlatih.
Staf
Pustakawan sekolah adalah anggota staf berkualifikasi profesional yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengelolaan perpustakaan sekolah, sedapat mungkin dibantu staf yang cukup, bekerja sama dengan semua anggota komunitas sekolah, dan berhubungan dengan perpustakaan umum dan lainnya.
Peran pustakawan sekolah bervariasi tergantung pada anggaran, kurikulum dan metodologi pengajaran di sekolah, dalam batas kerangka kerja keuangan dan perundang-undangan nasional. Di dalam konteks khusus, ada ranah umum pengetahuan yang penting jika pustakawan sekolah mengembangkan dan mengoperasikan jasa perpustakaan sekolah yang efektif: yaitu mencakup sumber daya, manajemen perpustakaan dan informasi serta pengajaran. Di dalam lingkungan jaringan yang makin berkembang, pustakawan sekolah harus kompeten dalam perencanaan dan pengajaran keterampilan menangani informasi yang berbeda-beda bagi guru dan murid. Dengan demikian, pustakawan harus melanjutkan pengembangan dan pelatihan profesionalnya.
Penyelenggaraan dan Manajemen
Untuk menjamin penyelenggaraan yang efektif dan dapat dipertanggungjawabkan, maka:
  • kebijakan mengenai jasa perpustakaan sekolah harus dirumuskan guna menentukan tujuan, prioritas dan jasa dalam kaitannya dengan kurikulum sekolah;
  • perpustakaan sekolah harus terorganisasi dan dikelola sesuai standar profesional;
  • jasa hendaknya dapat diakses oleh semua anggota komunitas sekolah dan diselenggarakan dalam konteks komunitas lokal;
kerjasama dengan guru, manajemen senior sekolah, administrator, orang tua murid, pustakawan dan profesional informasi lainnya dan kelompok komunitas harus didorong.

Sunday, September 24, 2017

Kabupaten Gorontalo gelar pelatihan strategi pengembangan perpustakaan desa

Salah
satu upaya memberikan wawasan dan strategi kepada kepala desa dan aparat desa lainnya dalam mengimplementasikan program pembangunan dibutuhkan adanya pelatihan strategi pengembangan perpustakaan hal itu dikatakan Kepala Bidang perpustakaan daerah Kabupaten Gorontalo Ibu Dewi Idris SH MH
Pelatihan perpustakaan desa Kabupaten Gorontalo tahun 2017 di ruang layanan lantai dasar dinas perpustakaan  dan kearsipan Kabupaten Gorontalo Rabu 9 Agustus 2017 di buka Sekretaris Daerah.
Kepala Bidang Menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan dukungan dan menyamakan persepsi dalam implementasi kebijakan nasional pengembangan perpustakaan desa Selain itu meningkatkan pemberdayaan perpustakaan desa dengan terwujud dan gagasan program satu Desa satu perpustakaan kata dia.
Kemudian tujuan lainnya agar terjalinnya sinkronisasi program kabupaten dan desa dalam upaya pengembangan perpustakaan dan mencerdaskan masyarakat dengan budaya gemar membaca dan belajar seumur hidup
Dalam kegiatan tersebut diperkenalkan aplikasi integrated library system merupakan aplikasi perpustakaan yang dibangun dan dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI aplikasi inlislite merupakan perangkat lunak satu pintu bagi pengelola perpustakaan untuk menerapkan otomasi perpustakaan sekaligus mengembangkan perpustakaan digital mengelola dan melayangkan koleksi digital.
Pemateri dalam kegiatan tersebut antara lain Bapak Yusron Humonggio, M.Pd ibu DR. Royana Monorfa, M.Pd keduanya adalah selaku pustakawan ahli.
Kepala Dinas perpustakaan dan kearsipan Kabupaten Gorontalo Dr Yahya Podungge. M.Pd. menyatakan bahwa tindak lanjut pembangunan perpustakaan digital dengan pelaksanaannya akan dimulai pada tahun anggaran 2018 Namun demikian di bulan Oktober ini akan dilakukan pembangunan perpustakaan digital di desa Tabongo Barat. Hadir dalam kesempatan itu kepala kepala desa antara lain kepala desa tabongo Timur yang menyampaikan bahwa di tahun 2018 ini mereka telah menganggarkan pembangunan perpustakaan desa sekaligus dengan pengembangan koleksi serta penerapan teknologi informasi.
Semoga saja upaya-upaya Sinergi dalam membangun perpustakaan Dalam mendukung visi Kabupaten Gorontalo akan terwujud di pemerintahan Nelson Fadli, semoga, amin

SOSIALISASI PEMBANGUNAN DATABASE PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan Kabupaten Boalemo melaksanakan sosialisasi pembangunan database perpustakaan,  Kegiatan ini dilaksanakan Rabu 20 September , di Tilamuta
Saat ini terdapat masalah dan kendala yang masih dirasakan oleh tenaga pustakawan daerah maupun petugas perpustakaan sekolah untuk memanfaatkan TIK dalam layanan perpustakaan antara lain berkaitan denganminimnya ketersediaan infrastruktur jaringan dan konten (koleksi digital) yang terjadi hampir di seluruh wilayah Provinsi Gorontalo, Solusi yang cerdas yang dapat ditempuh dalam mengatasi  masalah ini antara adalah “Membangun Perpustakaan Digital Berbasis Intranet. Intranet adalah Jaringan Komputer yang khusus untuk penggunaan pada lingkungan di dalam batasan jangkauan  suatu wireless atau wifi. disatu tempat/ sekolah. Perpustakaan Digital dilengkapi dengan koleksi berupa, buku elektronik, gambar, suara, video, e-learning, animasi, audio, live chating. dan dapat akses memlalui kompter pc, laptop, Ipot dan smartphone di LAN (Intranet) layaknya seperti internet.  
Dengan adanya perpustakaan digital kita tidak saja hanya menyediakan koleksi digital tatapi juga dapat mengelola  pengetahuan dan informasi (konten pembelajaran) yang berbasis web lebih spesifik (e-learning) serta akantumbuh kolaborasi antara Perpusda  dan sekolah,  guru, siswa dan bahkan sekolah dengan sekolah.
Membangun Perpustakaan Digital berbasis LAN Local  (Intranet) memiliki keuntungan Pertama  Pembelajaran dapat lebih fokus dan tidak terpengaruh oleh konten-konten lain misal situs game online, jejaring sosial dan lain-lain: Kedua bagi guru yang berinovasi tentang mengembangkan bahan ajar berbasis web, animasi dan interaktif dapat  dituangkan dalam konten Pustaka Digital. (Ketiga)  Biaya dan efektifitas, tidak ada biaya sewa hosting? (volume penyimpanan data di internet) dan bandwidth Internet? Intranet memungkinkan kita memiliki bandwidth sebesar-besarnya karena berada di jaringan lokal (LAN) dan volume penyimpanan data yang lebih besar: Keempat  meningkatnya jumlah koleksi digital (, buku elektronik, gambar, suara, video, e-learning, animasi, audio) yang berhasil meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan
Dengan adanya pustaka digital diharapkan akan terjadi perubahan tugas tenaga perpustakaan daerah dari yang selama ini hanya melaksanakan layanan perpustakaan keliling ke sekolah akan  bertambah dengan tugas  “Membangun Perpustakaan Digital” dengan aktifitas melengkapi keragaman koleksi yang dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran di sekolah.  Perubahan ini menciptakan efisisiensi dan efektifitas program perpustakaan, yaitu pengadaan kolekasi digital, memberikan kesempatan pada sekolah di daerah terpencil untuk belajar dengan fasilitas berbasis TIK, Pelaksanaan kegiatan dapat diintegrasikan dengan layanan perputakaan keliling sehingga terjadi penghematan sumber daya.
Dengan membangun Perpustakaan Digital di daerah terpencil seolah Pustakawan Daerah telah membangun infrastruktur jaringan internet dapat di akses secara gratis di sekolah terpencil,  Pertanyaanya mampukah SDM